Tampilkan postingan dengan label Tip Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tip Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Olahraga Bisa Turunkan Risiko 13 Kanker

Studi baru yang besar menegaskan bahwa olahraga menurunkan risiko berbagai jenis kanker. Sebuah tingkat yang lebih tinggi dari aktivitas fisik di waktu luang dikaitkan dengan risiko 7 persen lebih rendah dari banyak kanker.
Orang yang lebih sering berolahraga memiliki risiko 42 persen lebih rendah terserang kanker. Termasuk terhindar dari risiko 27 persen lebih rendah terserang kanker hati. Tim di National Cancer Institute melihat lusinan studi kanker di AS dan menyimpulkan semua temuan mereka bersama-sama ke dalam analisis tunggal.
Mereka membandingkan orang-orang yang berolahraga lebih dari 90 persen dengan orang yang jarang berolahraga. Studi ini hanya meneliti olahraga berat, seperti berlari dan latihan yang lebih moderat termasuk berenang dan berjalan-jalan.

" Sebuah tingkat yang lebih tinggi dari aktivitas fisik waktu luang dikaitkan dengan risiko 7 persen lebih rendah dari kanker total," tulis para peneliti, seperti dilansir laman Today.
Olahraga Bisa Turunkan Risiko 13 Kanker
Obesitas adalah faktor risiko terkenal untuk kanker, tapi olahraga melindungi bahkan orang gemuk dari kanker. Berikut hasil penelitiannya:

-26 persen lebih rendah terserang kanker paru-paru.
-23 persen lebih rendah terserang kanker ginjal.
-22 persen lebih rendah terserang kanker perut.
-21 persen lebih rendah terserang kanker endometrium.
-20 persen lebih rendah terserang leukemia myeloid.
-17 persen lebih terserang myeloma.
-16 persen lebih terserang kanker usus.
-15 persen lebih terserang kanker kepala dan leher.
-13 persen lebih rendah terserang kanker rektum.
-13 persen lebih rendah terserang kanker kandung kemih.
-10 persen lebih rendah terserang kanker payudara.

Olahraga membantu tubuh lebih baik mengatur insulin dan bisa menurunkan peradangan.
Penelitian in diterbitkan dalam Journal of American Medical Association JAMA Internal Medicine.
Continue reading...

4 Tips Mencegah Dehidrasi Saat Puasa

Dehidrasi rentan menyerang saat puasa. Jika dibiarkan, dehidrasi dapat membuat tubuh lemas, kurang konsentrasi, mengantuk bahkan dapat membahayakan nyawa.

Selama puasa, tubuh tak mendapat asupan cairan selama lebih dari 12 jam. Padahal meski tak minum selama lebih dari 12 jam, dehidrasi tetap bisa dicegah lho. Bagaimana caranya?

berikut 4 Tips Mencegah Dehidrasi Saat Puasa :

1. Atur asupan cairan

Setiap orang dianjurkan untuk meminum 8 gelas air putih per hari untuk memenuhi kebutuhan cairan. Saat puasa, aturan 8 gelas juga masih berlaku, namun tentunya dengan sedikit penyesuaian.

Caranya, minum 2 gelas air putih saat sahur, 2 gelas saat berbuka puasa, 2 gelas saat makan malam dan 2 gelas sebelum tidur.

2. Hindari aktivitas luar ruangan

Salah satu penyebab terjadinya dehidrasi adalah cairan tubuh yang hilang karena panas sinar matahari. Untuk mencegahnya, sebaiknya kurangi aktivitas di luar ruangan.

Selain itu, gunakan pakaian yang mudah menyerap keringat. Usahakan juga untuk tidak berada di bawah terik sinar matahari selama lebih dari 2 jam.

4 Tips Mencegah Dehidrasi Saat Puasa

3. Buah dan sayur

Menu makanan saat berbuka puasa dan sahur sangat penting untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Asupan sayur dan buah, terutama saat sahur, mengandung banyak serat yang dapat menahan cairan tubuh lebih lama.

Selain itu buah seperti semangka, melon dan pepaya juga cocok dijadikan menu berbuka puasa karena segar dan manis.

4. Jangan rakus

Saat buka puasa, orang cenderung makan lebih banyak karena merasa lapar. Padahal menurut pakar, rasa lapar yang muncul belum tentu karena kekurangan makanan.

Bisa jadi, rasa lapar yang muncul malah karena tubuh kekurangan cairan. Karena itu, hindari makan berlebih saat berbuka agar tubuh dapat memperoleh asupan cairan yang cukup.
Continue reading...

Waktu Yang Tepat Untuk Olahraga Saat Puasa

Puasa kerap digambarkan sebagai kondisi tubuh yang lemah karena tidak dapat makan atau pun minum. Dengan alasan itu, banyak orang yang memutuskan untuk tidak berolahraga selama bulan puasa.
Benarkah keputusan tersebut? Dokter Michael Triangto, Sp.KO, menyatakan pada dasarnya mereka yang berpuasa masih dapat berolahraga selama tujuannya bukan untuk prestasi.
Menjaga kebugaran, menstabilkan kadar gula darah, atau mempertahankan berat badan serta massa otot merupakan tujuan-tujuan olahraga yang “dilegalkan” saat puasa.
Waktu Yang Tepat Untuk Olahraga Saat Puasa

Lalu, kapan waktu yang tepat untuk berolahraga di bulan puasa?
Pilihannya antara 1-2 jam sebelum buka puasa, langsung setelah berbuka namun hanya menyantap kolak atau segelas teh manis (tanpa makan besar) atau 2 jam setelah berbuka puasa dengan makan besar.
Perlu diingatkan bahwa tidak dianjurkan untuk tidak berolahraga di pagi hari karena kita tidak dapat minum setelahnya.
Tidak dianjurkan pula untuk berolahraga sebelum sahur karena udara masih penuh dengan CO2.
Jenis olahraga yang paling disarankan untuk dilakukan saat puasa adalah aerobik seperti jalan kaki, jalan cepat, bersepeda atau berenang.
Olahraga dengan beban seperti mengangkat besi atau barbel tidak dianjurkan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat berolahraga di bulan puasa, dilansir Intisari-Online.com, dimana denyut jantung lebih cepat karena tubuh kekurangan cairan, antara lain:
* Intensitas olahraga tidak boleh melebihi denyut jantung maksimal yang besarnya = 220 – usia (dalam tahun)
* Kurangi durasinya. Kalau biasanya berjalan kaki dengan kecepatan 10 menit/km, kurangi menjadi 20 menit/km. Kalau biasanya berjalan selama 1 jam, kurangi menjadi 30 menit.
* Frekuensi boleh dipertahankan dengan syarat tidak dipaksakan.
* Mulailah berolahraga 1 minggu setelah berpuasa.
* Setelah olahraga jangan langsung tidur malam. Tunggulah sampai suhu tubuh kembali normal, yakni ± 3 jam sesudahnya.
* Bila melakukan olahraga yang lebih berat seperti badminton atau tenis, batasi intensitasnya. Kalau biasanya 2 – 3 set, selama puasa cukup 1 set saja.
* Para lansia di atas 60 tahun yang masih berpuasa dianjurkan untuk sementara menghentikan kegiatan olahraganya. (*)   
Continue reading...

Terlalu Lama Di Depan Komputer, 7 Tips Ini Membuat Mata Anda Pasti Segar Kembali

Apakah Anda menghabiskan sepanjang hari menatap layar komputer? Apakah kepala Anda sakit pada penghujung hari karena mata Anda lelah?
Jika demikian, lakukanlah langkah ini setiap hari ketika Anda sedang istirahat di tempat kerja. Jangan khawatir, cara ini mudah dan tidak akan lama kok.
Berikut beberapa latihan yang akan bikin mata Anda segar kembali, seperti dilansir laman India Health, Selasa (5/4).
1. Berkedip terus-menerus selama dua menit
Ini membantu meningkatkan sirkulasi darah ke mata Anda. Cobalah untuk berkedip lebih sering saat Anda sedang bekerja juga.
2. Lihat dari satu sisi ke sisi lain tanpa menggerakkan kepala Anda
Jangan gerakkan kepala Anda, namun perlahan-lahan gerakkan mata Anda ke kanan, lalu ke kiri. Ulangi 10 kali.
3. Tutup mata Anda dan gerakkan bola mata Anda ke atas dan ke bawah
Tanpa menggerakkan kepala Anda namun tutup mata Anda, perlahan-lahan gerakkan bola mata Anda ke atas dan kemudian ke bawah. Ulangi 10 kali.
4. Putar mata Anda tanpa menggerakkan kepala Anda.
Jangan gerakkan kepala Anda, perlahan-lahan mutar mata Anda searah jarum jam dan kemudian berlawanan arah jarum jam, 10 kali di setiap arah.
5. Tekan sedikit pelipis Anda dengan jari-jari Anda
Tempatkan jari Anda diatas pelipis Anda dan menjaga tekanan di sana selama beberapa detik. Hal ini meningkatkan sirkulasi cairan intraokular. Ulangi 5 kali.
6. Fokus pada sesuatu yang dekat dan sesuatu yang jauh
Lihatlah sesuatu yang dekat dengan Anda selama beberapa detik dan kemudian beralih pandangan Anda ke objek jauh dan fokus pada itu selama beberapa detik. Ulangi 5 kali.
7. Tutup mata Anda selama beberapa menit dan hanya bersantai.

sumber : jpnn
Continue reading...

Bahaya Pada Tubuh Anda Jika Tidur Pakai Kipas Angin Mengarah Ke Badan

Sebagai daerah yang berada pada iklim tropis, sangat wajar jika banyak orang memiliki kipas angin. Hal tersebut untuk membantu emnurunkan suhu yang terlalu panas. Bahkan tak sedikit orang yang menyalakannya saat tertidur. Perlu anda ketahui ternyata tidur dengan kipas angin menyala sangatlah berbahaya seperti berikut ini:
  1. Tubuh kekurangan oksigen
Dampak negatif pertama yang terjadi pada tubuh jika sering tidur menggunakan kipas angin adalah tubuh akan kekurangan oksigen.
Hal ini terjadi apabila arah kipas angin langsung ditujukan ke wajah, terkena bagian hidung dna mulut di dalam ruangan yang tidak memiliki fentilasi. Alhasil, udara yang berputar-putar di dalamnya tidak diperbaharui sehingga oksigen tidak dapat berfungsi dengan baik ketika dihirup tubuh kita.
  1. Suhu tubuh menurun drastis
Saat hembusan angin menerpa tubuh kita di dalam kamar, suhu tubuh kita akan menurun. Hal itu pasti dan tentu belum berbahaya. Hanya saja, saat sudah lebih adem, kadang kipas angin masih terus berputar dan menurunkan suhu kita menjadi lebih rendah lagi. Terutama saat dalam keadaan tidur. Hasilnya suhu tubuh kita bisa saja menurun drastis.
Nah, umumnya, kondisi ini terjadi secara tiba-tiba pada saat tekanan darah dan sistem pernafasan lagi terganggu. Dampak fatal, sebab bisa menggangu fungsi jantung dan paru-paru dalam tubuh.
Jadi kalau pakai kipas angin lagi tidur dan suhu tubuh kamu turun drastis, kamu perlu memeriksa jantung dan paru-paru, tuh!
  1. Dehidrasi
Bahaya selanjutnya ialah kamu akan mengalami dehidrasi bahkan hipotermia. Kejadian ini pernah dijabarkan oleh Dr. Wendra Ali, soerang ahli syaraf.
Menurut dokter Ali, ketika seseorang berada dalam ruangan dingin dalam waktu yang lama maka tubuh akan mengalami kekeringan akibat dari kerja udara dingin yang menyerap air dalam tubuh. Nah, apabila terjadi terus menerus sepanjang malam, maka kelembaban tubuh akan menurun sampai akhirnya kita merasa kehausan bahkan dehidrasi. Ada kemungkinan juga terserang gejala hipotermia. What?
  1. Gejala Hipotermia
Iya, hipotermia memang lebih sering terjadi di daerah ketinggian, biasanya disebut juga penyakit anak gunung. Namun gejalanya bisa saja terjadi dalam kondisi dimana tubuh merasa teramat sangat kedinginan meski kita sedang berada di daratan rendah.
Nah, kedinginan yang teralu lama ini bisa menyebabkan tubuh membeku akibat pembuluh darah mengerut yang bisa memutus aliran darah yang menuju ke hidung, telinga, jari tangan dan jari kaki. Tubuh pun kadang menggigil, sebab suhu tubuh di dalam sudah gagal dijaga dalam suhu yang normal.
Gejala awal hipotermia terjadi apabila suhu kurang dari 36°C atau kedua kaki dan tangan terasa dingin. Selanjutnya disebut hipotermia berat bila suhu tubuh kurang dari 32°C. Ingat, ini suhu dalam tubuh, bukan ruangannya!
  1. Penyakit Bell Palsy
Jangan anggap remeh soal dampak negatif memakai kipas angin. Kamu bisa saja terserang penyakit yang disebut bell palsy. Ini adalah penyakit dimana sistem syaraf wajah berubah menjadi tegang, sulit senyum, dan susah berekspresi. Hal ini diakibatkan suhu dingin yang fokus menerpa bagian wajah secara terus menerus sepanjang malam.
Nah, Samuel Zylgwyn kabarnya pernah mengidap Bell’s Palsy pada 2010 lalu. Meski sembuh dengan antibiotik, sebenarnya sejauh ini, belum ditemukan penelitian ilmiah bagaiman cara mencegah Bell’s palsy ini. Namun Samuel Zlygwyn pernah memperingatkan agar jangan terkena udara dingin terlalu sering, terutama yang langsung menerpa wajah kita.
Oh iya, biasakan juga untuk melakukan olahraga wajah. Selain itu, menjaga tubuh agar tidak kelelahan dan mengkonsumsi makanan bergizi adalah cara yang bisa dicoba untuk mengurangi risiko Bell’s Palsy.
Daripada punya wajah asimatris dan kaku? Lebih baik jauhkan kipas dari muka!
  1. Menyebabkan kematian
Nah, bahaya paling fatal bila seseorang sering tekena kipas angin adalah mereka bisa mengalami kematian mendadak. Catatan pentingnya, kipas angin pembunuh ini datang saat kita menggunakan kipas angin sepanjang malam selama tertidur di ruangan yang tidak terdapat fentilasi udara

sumber : http://statradar.net/
Continue reading...

4 Cara Mengatasi Grogi Saat Bertanding

Cara Mengatasi Grogi Saat Bertanding


Sebelum menghadapi sebuah pertandingan, ada yang umum terjadi dalam diri atlet. Kondisi psikologis atlet biasanya menjadi lebih tinggi. Hal ini terpicu oleh situasi dan keadaan yang akan di hadapi. Ditambah dengan embel-embel sebuah pertandingan penting yang menentukan. Dari kondisi tersebut muncul reaksi-reaksi fisiologis dalam tubuh seorang atlet. Keringat mengucur deras, tangan dan kaki basah oleh keringat, nafas terengah-engah, gemetar, kepala pusing, mual hingga muntah-muntah. Itu semua adalah respon fisik atas kondisi mental yang meningkat. Secara umum, atlet tersebut merasa cemas.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para atlet dalam rangka mengurangi kecemasan yang ditimbulkan oleh tekanan pertandingan, yakni:

  1. Membuat perpektif yang benar; bertanding dalam sebuah cabang olahraga bukanlah masalah hidup atau mati. Dengan demikian, beban akan lebih ringan. Bukan berarti hal ini menganggap remeh sebuah pertandingan, namun sekedar meletakkan permasalahan dengan lebih objektif.
  2. Jangan takut untuk membuat kesalahan. Perasaan takut membuat kesalahan memberi kontribusi yang cukup besar munculnya kecemasan. Dengan menganggap bahwa tidak semua orang bisa sukses setiap waktu bisa meringankan beban. Bahkan seorang Zinedine Zidane pun melakukan kesalahan yang fatal.
  3. Mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Dengan berlatih keras dan dengan metode yang benar, maka semua halangan bisa dengan mudah dikalahkan.
  4. Berkonsentrasi tinggi. Selama pertandingan berlangsung, hilangkan persoalan-persoalan yang tidak berkaitan. Dengan berkonsentrasi pada apa yang sedang dihadapi, maka seorang pemain atau atlet akan lebih bisa berfikir rasional. Pikirkan juga apa yang sedang dilakukan, bukan semata pada hasil akhir.
Dengan pendekatan yang benar, maka kecemasan tidak akan menghalangi penampilan seorang atlet. Sebaliknya, dengan kecemasan yang relatif tinggi, sebenarnya atlet tersebut sedang bersemangat. Tinggal peran atlet, pelatih dan psikologi yang ditunggu untuk menciptakan pemain-pemain yang tidak mudah stress dan bisa dengan maksimal menggunakan skillnya untuk menciptakan prestasi.

sumber : Kemenpora
Continue reading...

6 Tips Memilih Sepatu Lari Yang Nyaman

6 Tips Memilih Sepatu Lari Yang Nyaman (image : mashable.com )
Berlari dan berjalan adalah olahraga yang mudah, murah, dan menyehatkan.Namun bila Anda salah memilih sepatu, bukan sehat yang didapat, melainkan risiko mengalami cedera kaki. Untungnya, kedua jenis olahraga tersebut sudah menjadi gaya hidup, sehingga pasar pun mempermudah kita mencari alas kaki yang tepat. Umumnya, toko-toko khusus alat-alat olahraga punya staf khusus yang memiliki pengetahuan tentang sepatu atletik yang tepat untuk kaki Anda.

Salah satu cara mandiri untuk mengenali bentuk telapak kaki adalah melakukan “uji basah”. Caranya, basahi kaki Anda, lalu injaklah kertas berwarna cokelat sampai muncul pola telapak kaki Anda. Jika ada cekungan yang rendah, maka Anda memerlukan sepatu yang relatif datar. Jika telapak kaki Anda memiliki lekukan tinggi, carilah sepatu empuk dengan sol lembut di bagian tengah.

Menurut Steven Reiken, salah satu direktur di Rothman Institute di Philadelpia, yang harus diingat adalah ukuran kaki Anda sering berubah. "Kaki berubah seiring bertambahnya usia, perlu pengukuran dua kali setiap tahun,” katanya. Ia menyarankan, jika hendak membeli sepatu, sebaiknya Anda melakukannya pada malam. Biasanya, karena aktivitas seharian, kaki membesar dari sore hingga malam. 

Sepatu olahraga juga harus sesuai dengan ortotik kaki. Saat dipakai berlari atau berjalan, sepatu harus terasa nyaman. Cobalah dipakai berjalan di sekitar toko untuk memastikan bahwa sepatu tersebut enak dipakai.

Selain itu, pakailah aturan praktis jarak sekitar 3/8-1/2 inci antara depan jempol kaki dan ujung sepatu serta area sekitar jempol. "Bagian atas sepatu juga harus terasa nyaman, tidak terlalu ketat," katanya.

The American Academy of Orthopedic Surgeons menulis, sepatu atletik dikatakan pas dipakai apabila jari-jari kaki bebas saat Anda bergerak. "Beberapa sepatu lari terlihat cocok dipakai di dalam daripada di luar ruangan," kata lembaga ini.

Kapan kita harus mengganti sepatu? Rata-rata sepasang sepatu lari harus diganti setelah sekitar 350-400 mil atau 563-644 kilometer penggunaan. Kata Clifford Jeng, seorang ahli bedah kaki di Mercy Medical Center di Baltimore, “Setelah bagian belakang telapak sepatu dan ujung sepatu tidak nyaman, segeralah ganti sepatu Anda dengan yang baru”.

Secara keseluruhan, ia menyarankan beberapa hal saat memilih sepatu lari:


  1. Jangan membeli satu sepatu untuk bermacam-macam pemakaian.
  2. Jangan membeli sepatu yang kaku saat dipakai berjalan.
  3. Belilah sepatu lari yang fleksibel.
  4. Carilah sepatu yang mempunyai bantalan sepatu yang nyaman.
  5. Hanya beli sepatu yang tepat untuk kaki Anda. Sepatu bermerek sekarang banyak menawarkan model yang sesuai dengan setiap tipe kaki.
  6. Belilah sepatu pada saat ukuran kaki membesar, yaitu pada akhir hari.
sumber : tempo
Continue reading...