Tampilkan postingan dengan label Psikologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Ingin Berhasil Dalam Proses Pembelajaran? Perhatikan Faktor-faktor ini

Ingin Berhasil Dalam Proses Pembelajaran? Perhatikan faktor-faktor yangmendukung proses pembelajaran disekolah meliputi: 

1. Faktor pada diri orang yang belajar. 

  • Keadaan fisik yang sehat, segar, kuat akanmenguntungkan hasil belajar. 
  • Keadaan mental/psikologis yang bersifat sesaat(monental) maupun terus menerus yang sehat, segar,baik, besar pengaruhnya terhadap hasil belajar.Adapun fungsi-fungsi jiwa yang besar peranyadalam hubunganya dengan belajar adalah: ingatan,perhatian, minat, kecerdasan (intelegensi), motivasi,kemauan, pikiran. 
2. Faktor di luar diri orang yang belajar. 


  • Alam pisik iklim, sirkulasi udara, keadaan cuaca dansebagainya. 
  • Faktor sosial/psikologis, di sini faktor yang utamaadalah faktor guru/pembimbing yang mengarahkanserta membimbing kegiatan orang belajar serta yangmenjadi salah satu sumber materi belajar. 
  • Sarana (termasuk prasarana) baik fisik maupun nonfisik memainkan peranan penting dalam mencapaihasil belajar (gedung, kelas, perlengkapan,laboratorium, perpustakaan buku pelajaran, alat-alatperaga termasuk prasarana/sarana fisik); sedangsuasana yang paedagogis, tenang, gembira, amanadalah prasarana/sarana yang non-fisik.
Ingin Berhasil Dalam Proses Pembelajaran? Perhatikan Faktor-faktor ini

Faktor-faktor non-sosial 
Yang tergolong ke dalam faktor ini terdiri dari keadaanudara, suhu udara, cuaca, waktu (pagi, siang, sore atau malam), tempat (letak dan kondisinya), alat-alat yang dipakai dalambelajar dan lainya. Semua ini harus diperhatikan dandipersiapkan semaksimal mungkin, supaya apa digunakan dandibutuhkan dapat mendukung jalanya proses pembelajaran

Faktor-faktor sosial
Yang dimaksud dengan faktor sosial di sini adalahantar sesama manusia, baik secara langsung maupun tidaklangsung. Kehadiran seseorang yang tidak terlibat dalamproses pembelajaran disaat siswa sedang belajar, mampumemecah konsentrasi dan mengganggu jalanya prosespembelajaran. Oleh karena itu, hal-hal dalam faktor sosial iniharus diatur sebaik mungkin supaya dapat mendukung jalanyaproses pembelajaran.

Faktor-faktor fisiologis 
Dalam faktor fisiologis, masih dapat dibedakan lagimenjadi dua macam, yaitu:
  • Keadaan tonus jasmani pada umumnya.Keadaan tonus jasmani merupakan satu hal yangmelatar belakangi aktivitas belajar. Keadaan siswa yangsegar akan berdampak siswa senang mengikuti pelajaran,namun sebaliknya apabila keadaan siswa lelah akanberdampak negatif terhadap siswa. Dalam hal ini kebutuhannutrisi makanan harus diperhatikan. Selain itu, dengan adanya penyakit kronis yang diderita oleh beberapa siswadapat mempengaruhi siswa dalam mengikuti prosespembelajaran.
  • Keadaan fungsi-fungsi jasmani tertentu terutama fungsifungsi panca indera.Baik tidaknya keadaan panca indera merupakansyarat pembelajaran berlangsung dengan baik. Kebutuhanfungsi dari panca indera yang berperan penting dalampembelajaran di sekolah yaitu mata dan telinga. Oleh karenaitu, guru pendidikan jasmani harus menjaga kesehatanpanca indera siswanya, misalnya dengan melakukanpengecekan secara periodik dari pihak sekolah.
Faktor-faktor psikologis
Dalam dunia pendidikan, aspek psikologis memilikiperan dalam mendukung proses pembelajaran. Psikologisendiri merupakan ilmu yang mempelajari tingkah lakuorganisme yang hidup, terutama tingkah laku manusia.Tingkah laku yang dimaksud adalah seluruh kegiatan manusiayang kelihatan maupun tidak kelihatan, seperti berbicara,berpikir, bersikap, bereaksi dan lain-lainnya.



Continue reading...

6 Tingkatan Pengetahuan

Pengetahuan sangat berguna sebagai guru pendidikan jasmani yang harus tahu mengenai karakteristik anak didiknya. Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2007: 140-142) pengetahuan dibagi menjadi 6 (enam) tingkatan yaitu:
1. Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh beban yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2. Memahami diartikan sebagai sesuatu kemampuan untuk menjelaskan secara kasar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
4. Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetepi masih di dalam suatu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. 
6 Tingkatan Pengetahuan
5. Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau kemampuan menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi berkaitan dengan masalah kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek berdasarkan kriteria yang ditentukan sendiri atau kriteria yang telah ada atau telah ditentukan.
Dapat disimpulkan bahwa tingkatan pengetahuan dibagi menjadi 6 (enam) tingkatan yaitu : 1) Tahu (Know), 2 Memahami (Comprehension), 3) Aplikasi (Aplication), 4) Analisis (Analysis), 5) Sintesis (Syntesis), 6) Evaluasi (Evaluation).
Continue reading...

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan

Dalam faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan menurut Abdul Rosid (2011: 2) pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang akan dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :
1. Pengalaman diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang.
2. Keyakinan biasanya keyakinan diperoleh secara turun-temurun dan tanpa ada pembuktian terlebih dahulu. Keyakinan ini biasanya mempengaruhi pengetahuan seseorang, baik yang sifatnya positif maupun negatif.
3. Fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, misalnya radio, TV, majalah, buku, dan lain-lain.
4. Kebudayaan setempat dan kebiasaan di dalam keluarga dapat mempengaruhi pengetahuan, persepsi dan sikap seseorang terhadap sesuatu.
 Menurut Putra Fadlil (2011: 21-23) faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah, sebagai berikut :
1. Faktor internal
a. Usia semakin tua usia seseorang maka proses-proses perkembangan mentalnya bertambah baik. Akan tetapi, pada usia tertentu bertambahnya proses perkembangan  mental ini tidak secepat seperti ketika berumur belasan tahun
b. Pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu, pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu.
c. Intelegensia diartikan sebagai suatu kemampuan untuk belajar dan berfikir abstrak guna menyesuaikan diri secara mental dalam situasi baru. Intelegensia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil dari proses belajar. Intelegensia bagi seseorang merupakan salah satu modal untuk berfikir dan mengolah berbagai informasi secara terarah, sehingga ia mampu menguasai lingkungan.
d. Jenis kelamin beberapa orang beranggapan bahwa pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh jenis kelaminnya. Dan hal ini sudah tertanam sejak zaman penjajahan. Namun, hal itu di zaman sekarang ini sudah terbantah karena apapun jenis kelamin seseorang, bila dia masih produktif, berpendidikan, atau berpengalaman maka iia akan cenderung mempunyai tingkat pengetahuan yang tinggi.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan

2. Faktor eksternal
a. Pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan tertentu, sehingga sasaran pendidikan itu dapat berdiri sendiri. Tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh, pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang makin semakin baik pula pengetahuannya.
b. Pekerjaan memang secara tidak langsung pekerjaan turut andil dalam mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Hal ini dikarenakan pekerjaan berhubungan erat dengan faktor interaksi sosial dan kebudayaan, sedangkan interaksi sosial dan budaya berhubungan erat dengan proses pertukaran informasi. Dan hal ini tentunya akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang.
c. Sosial budaya mempunyai pengaruh pada pengetahuan seseorang. Seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam hubungannya dengan orang lain, karena hubungan ini seseorang mengalami suatu proses belajar dan memperoleh suatu pengetahuan. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.
d. Lingkungan merupakan salah satu faktor yang  mempengaruhi pengetahuan seseorang. Lingkungan memberikan pengaruh pertama bagi seseorang, di mana seseorang dapat mempelajari hal-hal yang baik dan juga hal-hal yang buruk tergantung pada sifat kelompoknya. Dalam lingkungan seseorang akan memperoleh pengalaman yang akan berpengaruh pada cara berfikir seseorang.
e. Informasi akan memberikan pengaruh pada pengetahuan seseorang. Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang rendah, tetapi jika ia mendapatkan informasi yang baik dari berbagai media, missal TV, radio atau surat kabar maka hal itu akan dapat meningkatkan pengetahuan seseorang.
Continue reading...

Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior). (Soekidjo Notoatmodjo, 2007: 139-140).

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui, segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal mata pelajaran.(Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1999: 22).

Continue reading...

Karakteristik Siswa Sekolah Dasar Kelas Atas

Ada beberapa karakteristik anak di usia Sekolah Dasar yang perlu diketahui oleh para guru, agar lebih mengetahui keadaan peserta didik khususnya ditingkat Sekolah Dasar. Sebagai guru harus dapat menerapkan metode pengajaran yang sesuai dengan keadaan siswanya maka sangatlah penting bagi seorang pendidik mengetahui karakteristik siswanya. Adapun karakteristik anak SD menurut Kurnia Septa (2011: 25), adalah sebagai berikut:
1. Anak SD senang bermain, karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih-lebih untuk kelas bawah.
2. Anak SD senang bergerak, orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak.
3. Anak SD senang bekerja dalam kelompok, dari pergaulannya dengan kelompok sebaya, anak belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi.
4. Anak SD senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung.
Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama.  

Karakteristik Siswa Sekolah Dasar Kelas Atas (image : ayomengajarindonesia)

Adapun ciri khas anak usia SD antara lain: 
1. Konfromitas pada teman sebaya.
2. Bermain kelompok.
3. Perkembangan moral: Perkembangan hati nurani.
4. Eksplorasi bakat minat.
5. Minat membaca.  

Sedangkan karakteristik siswa SD kelas atas menurut Siti Partini dalam diktat kuliah perkembangan peserta didik (2007: 37), adalah sebagai berikut:
1. Perhatiannya tertuju kepada kehidupan yang praktis sehari-hari.
2. Ingin tahu, ingin belajar, realistis.
3. Timbul minat pada pelajaran khusus.
4. Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah.
5. Anak suka membentuk kelompok sebaya atau peer-group untuk bermain bersama, dan mereka membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya.  

Menurut Anarino, Cowell dan Sukintaka (1992 :  42-43), anak dengan umur 11-12 tahun memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Pertumbuhan otot lengan dan otot tungkai makain bertambah.
2. Ada kesadaran mengenai badannya.
3. Anak laki-laki lebih menguasai permainan kasar.
4. Pertumbuhan tinggi dan berat tidak baik.
5. Kekuatan otottidak menunjang pertumbuhan.
6. Waktu reaksi makin baik.
7. Perbedaan akibat jenis kelamin nyata.
8. Koordinasi main baik.
9. Badan lebih sehat dan kuat.
10. Tungkai mengalami masalah pertumbuhan dibandingkan anggota atas.
11. Perlu diketahui bahwa ada perbedaan kekuatan otot dan ketrampilan antara anak laki-laki dan perempuan.  

Psikologi dan Mental   
1. Kesenangan bermain dengan bola semakin bertambah.
2. Menaruh perhatian pada permainan yang teroganisir.
3. Sifat kepahlawanan kuat.
4. Belum mengetahuai problem kesehatan masyarakat.
5. Perhatian terhadap teman sekelompok semakin kuat.
6. Perhatian terhadap bentuk semakin bertambah.
7. Beberapa anak mudah menjadi putus asa dan akan mudah bangkit bila tidak sukses.
8. Mempunyai rasa tanggung jawab untuk menjadi dewasa.
9. Berusaha untuk dapat mendapatkan guru yang dapat membenarkannya.
10. Mulai mengerti tentang waktu dan menghendaki segala sesuatunya selesai pada waktunya.
11. Kemampuan membaca mulai berbeda, tetapi anak mulai tertarik pada kenyataan yang diperoleh lewat bacaan.

Sosial dan Emosional
1. Pengantaran emosionalnya tidak tetap dalam proses kematangan jasmani.
2. Menginginkan masuk ke dalam kelompok sebaya, dan biasanya perbedaan pada kelompok sebaya ini akan menyebabkan kebinggungan pada tahapan ini.
3. Memudahkan dibangkitkan.
4. Putri menaruh perhatian terhadap laki-laki.
5. Ledakan emosi biasa saja.
6. Rasa kasih sayang seperti orang dewasa.
7. Senang sekali memuji dan mengagungkan.
8. Suka mengkritik orang dewasa.
9. Laki-laki membenci putri, sedangkan putri membenci laki-laki yang lebih tua.
10. Rasa bangga berkembang.
11. Ingin mengetahui segalanya.
12. Mau mengerjakan pekerjaan bila didorong oleh orang dewasa.
13. Merasa sangat puas bila dapat menyelesaikannya, mengatasi dan mempertahankan sesuatu, atau tidak berbuat kesalahan, karena mereka akan merasa tidak senang kalau kehilangan atau berbuat kesalahan.
14. Merindukan pengakuan dari kelompoknya.
15. Kerjasama meningkat, terutama sesama laki-laki, kualitas kepemimpinan mulai nampak.
16. Senang pada kelompok melebihi kegiatan individu, mudah untuk bertemu.
17. Senang merasakan apa yang mereka kehendaki.
18. Loyal terhadap kelompok atau gank”nya.
19. Perhatian terhadap kelompok sejenis sangat luas.
Continue reading...

Karakteristik Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Dilihat dari tahapan perkembangan yang disetujui oleh banyak ahli, anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) berada pada tahap perkembangan pubertas (10-14 tahun). Menurut Desmita (2010: 36) ada beberapa karakteristik siswa usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) antara lain:
a.    Terjadinya ketidak seimbangan proporsi tinggi dan berat badan,
b.    Mulai timbulnya ciri-ciri seks sekunder.
c.    Kecenderungan ambivalensi, serta keinginan menyendiri dengan keinginan bergaul, serta keinginan utuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orang tua.
d.   Senang membandingkan kaedah-kaedah, nilai-nilai etika atau norma dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa.
e.    Mulai mempertanyakan secara skeptis mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan.
f.     Reaksi dan ekspresi emosi masih labil.
g.    Mulai mengembangkan standard dan harapan terhadap perilaku diri sendiri yang sesuai dengan dunia sosial.
h.    Kecenderungan minat dan pilihan karier relatif sudah lebih jelas.


 Karakteristik Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Menurut Syamsu Yusuf (2004: 26-27) masa usia Sekolah Mengah bertepatan dengan masa remaja. Masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian karena sifat-sifat khasnya dan perannya yang menentukan dalam kehidupan individu dalam masyarakat orang dewasa. Masa ini dapat diperinci lagi menjadi beberapa masa, yaitu sebagai berikut:
a.    Masa praremaja (remaja awal)
Masa praremaja biasanya berlangsung hanya dalam waktu relatif singkat. Masa ini ditandai oleh sidat-sifat negatif pada si remaja sehingga seringkali masa ini disebut masa negatif dengan gejalanya seperti tidak tenang, kurang suka bekerja, pemisitik, dan sebagainya. Secara garis besar sifat-sifat negatif tersebut dapat diringkas, yaitu (a) negatif dalam prestasi, baik prestasi jasmani maupun prestasi mental; dan (b) negatif dalam sikap sosial, baik dalam bentuk menarik diri dalam masyarakat (negatif pasif) maupun dalam bentuk agresif terhadap masyarakat (negatif aktif).
b.    Masa Remaja (Remaja Madya)
Pada masa ini mulai tumbuh dalam diri remaja dorongan untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya, teman yang dapat turut merasakan suka dan dukanya. Pada masa ini, sebagai masa mencari sesuatu yang dapat dipandang bernilai, pantas dijunjung tinggi dan dipuja-puja sehingga masa ini disebut masa merindu puja (mendewa-dewakan), yaitu sebagai gejala remaja.
Proses terbentuknya pendirian atau pandangan hidup atau cita-cita hidup itu dapat dipandanga sebagai penemuan nilai-nilai kehidupan. Proses penemuan nilai-nilai kehidupan tersebut adalah pertama,karena tiadanya pedoman, si remaja merindukan sesuatu yang dianggap bernilai, pantas dipuja walaupun sesuatu yang dipujanya belum mempunyai bentuk tertentu, bahkan seringkali remaja hanya mengetahui bahwa dia menginginkan sesuatu tetapi tidak mengetahui apa yang diinginkannya. Kedua, objek pemujaan itu telah menjadi lebih jelas, yaitu pribadi-pribadi yangdipandang mendukung nilai-nilai tertentu 9 jadi personifikasi nilai-nilai). Pada anak laki-laki sering aktif meniru, sedangkan pada anak perempua kebanyakan pasif, mengagumi, dan memujanya dalam khayalan.
c.    Masa remaja akhir
Setelah dapat menentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapailah masa remaja akhir dan telah terpenuhilah tugas-tugas perkembangan masa remaja, yaitu menemukan pendirian hidup dan masuklah individu ke dalam masa dewasa.

Siswa sekolah menengah pertama memiliki usia yang merupakan masa peralihan dari usia anak-anak ke usia yang remaja. Perilaku yang disebabkan oleh masa peralihan ini menimbulkan berbagai keadaan dimana siswa labil dalam pengendalian emosi. Keingintahuan pada hal-hal baru yang belum pernah ditemui sebelumnya mengakibatkan muncul perilaku-perilaku yang mulai memunculkan karakter diri.
Continue reading...